Jakarta, 2 September 2014
Kepada yang terhormat
Bapak presiden Republik Indonesia
Presiden terpilih
Presiden yang akan lengser
Presiden yang sudah selesai menjabat
Presiden yang sedang bersemangat menyusun ide untuk melebarkan sayap atas nama Indonesia
Presiden yang nyaris legah karena sebentar lagi tidak perlu berurusan dengan kita, rakyat, dengan janji yang
membuat anda terpilih untuk tidak dilaksanakan
Para presiden yang sudah tidak ada, dan entah sedang berhadapan dengan siapa, dengan Malaikatkah?
Atau dengan para penjaga pintu neraka?
Atau mungkin pintu neraka juga tidak terbuka untuk mereka?
Kalau ada yang sedang di pintu itu, bisakah anda sedikit beranjak ke seberang, ke pintu yang lebih dingin,
dengan wajah ramah penjaga, dan tanyakan apakah ada seorang Malaikat yang tak bersayap menghuni tempat itu?
Namanya Munir
Lengkapnya : Munir Said Thalib
Oh maaf
Tidak bisa?
Duh maaf saya lupa, diagama juga diajarkan bahwa setan tidak masuk ke tempat suci dan sebaliknya
Maaf ya pak
Tapi apalah arti agama ya?
Apalah arti agama saat badan kita tidak pernah bolos ibadah tapi hati kita dan pikiran kita mencari cara untuk menutupi kejahatan atau menerima mandat dari mereka yang jahat?
Tiada henti kau bekerja keras, Berjuang demi cinta kata teman saya. Cinta yang mana? Indonesia? Keluarga? Suami?
Sepuluh tahun yang lalu, itu hilang?
Dan sejak sepuluh tahun lalu, ratusan janji, ribuan kata penghibur, dan entah berapa banyak scenario lucu saya terima. Ada yang sedikit masuk akal, sisanya saya tahu itu sejenis lelucuan untuk menutup aib orang
Pak presiden
Baru, lama, sekarang, maupun terpilih
Saya hanya meminta sedikit kejujuran
Hanya untuk tahu, tahu siapa yang menjadi pemimpin saya, siapa yang bisa saya percaya, apa yang bisa saya harapkan dan apa yang tidak usah saya harapkan sama sekali.
Meminta kepada bapak presiden sebagai seorang presiden, bapak, anak, suami, sebagai orang indonesia dan satu SEBAGAI SESAMA MANUSIA
ADA rasa lelah dan bosan dengan janji
Saya lebih bisa menghargai manusia yang jujur dan apa adanya. Seperti janji anda, oh bukan Presiden sebelumnya? atau presiden terpilih? Atau semua presiden?
Katakan YA dan lakukan kalau memang akan dicari keadilan
Katakan TIDAK kalau memang dari awal tidak ada rencana untuk mencari keadilan seadil-adilnya.
Jangan seperti anak kelas satu SD yang masih dibisiki oleh Ibunya tentang apa yang telah boleh diucap dan tidak. Atau katanya sih seperti perempuan cengeng yang tidak berani membicarakan kejujuran.
Jangan mengatakan kita tidak peduli pada rumah indah ini saat kita tidak berdiri di kotak suara, tapi nama yang keluar dikotak itu juga hanya sekedar hadir nyata di awal saja.
Dan setiap bertemu dengan kotak baru, kembali datanglah temannya bernama harapan baru, sahabatnya bernama janji baru, sodaranya bernama tipuan baru.
Terima kasih untuk presiden yang sudah menyelesaikan jabatannya, karena anda sudah mengajarkan saya menjadi orang yang jauh lebih berhati-hati untuk tidak lagi percaya pada omongan manis seperti yang anda lakukan.
Dan selamat datang presiden terpilih, saya butuh waktu untuk bisa menentukan apakah anda bersaudara dengan rekan anda sebelum-sebelumnya atau anda seorang lelaki pemimpin yang bisa dan berani berkata jujur dan bukan sekedar boneka yang diarahkan pada mereka yang memodali anda.
Dan kalau pun ini masih belum berhasil,
Jangan takut karena saya tidak akan pernah berhenti mempertanyakan keadilan yang sudah diburamkan selama 10 tahun, demi permainan aman manusia yang menaruh martabatnya pada sepotong dasi
Dan adai pun 10 tahun kedepan masih belum ditemukan keadilan, tidak perlu takut. Karena seorang MUNIR tidak pernah mati
Beliau ada
Di Darah Indonesia
Di Hati Indonesia
Dalam NADI Indonesia
Berlipat ganda
Bergerak
Dengan tenang, mengantarkan anda pada pintu di atas tadi, di mana di dalamnya ada Hakim yang tidak akan pernah bisa disogok, SAKSI yang tidak pernah menutup mata, HUKUM yang tidak pernah bisa dipermainkan, dan pilihan kita .. apa yang akan kita dapat
HUKUM yang TIDAK AKAN PERNAH BISA DITAWAR. Atau BERKAH YANG TIDAK AKAN BERKESUDAHAN
SALAM
http://melaniesubono.blogdetik.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar